ARTIKEL

NUKILAN NGADI NUGROHO

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Biodata:
Ngadi Nugroho
Lahir di Kota Semarang ( Indonesia ), 28 Juni
Sekarang ini aktivitas sehari-hari di Kota Kaliwungu
Suka dengan sastra dan menulis khususnya sajak/puisi
Beberapa kali puisinya tayang di media online dan majalah juga antologi bersama
Bisa disapa lewat email : ng.adinugroho81@gmail.com

KUBACA

Kubaca perlahan sebuah jalan. Jalan yang penuh kisah. Suluh-suluh telah dinyalakan. Dengan api yang tak mungkin gampang padam. Api cinta dari pelukan ibu dan kekar bahu bapakku. Kecuali bila dipadamkan oleh sebuah kematian.

Seperti biasanya, bebuku itu telah habis kubaca. Tentang rindu yang tersangkut di dahan yang menua. Hingga merontang, kurus sayapnya. Namun ingin terbang mengarungi semesta.

Masih kubaca, sebuah jalan itu. Dengan kota-kota yang tak pernah sepi. Dan warna langit tak hanya biru melulu, tak hanya biru melulu. Ada air menggenang di trotoar jalan; hitam. Teramat hitam, menyublimkan doa-doa pesakitan. Mengetuk-ketuk dada setiap pejalan. Namun langkah-langkah sepatu berjingkat menghindar. Sedangkan musim hujan belumlah sempat berkabar. Batu-batu menangkap resah itu. Mengalirkannya menuju-Mu. Menuju muara–di ujung sana–susah kubaca; aku tak tahu tempat-Nya.

Astana Kuntul Nglayang, 2023

KOTA-KOTA

Resah itu dibawa ke beranda rumah
Menempel seperti sisa lumpur
Lekat, di alas sepatu berwarna coklat
Seolah kekal tak hendak lebur
Berteriak, hari ini belumlah selesai
Sepertinya waktu selalu ingin melambai
Satu, dua, tiga, empat, lima dan seterusnya; tak pernah usai

Baca lain  Babore Jais Sahok

Suara air di kran kamar mandi pun berlari-larian menuju selokan. Terburu-buru ingin segera pulang. Entah pulang ke mana? Bila sebenarnya esok masih tanda tanya
Hanya mimpi-mimpi yang punya syahwat
Menjelma kalender-kalender di dinding pucat
Seolah abadi; menempel teramat lekat
Sedangkan sunyi tak pernah mengabarkan kapan akan mati

Kota-kota riuh, lampu-lampu temaram sepanjang hari sepanjang malam. Orang-orang berbaris menjumput mimpinya di sebuah loket perusahaan. Seperti antri seliter bensin untuk bakar diri. Terus berlari dan berlari hingga mimpi itu pelan-pelan raib dalam dunianya sendiri. Dan kita tertegun, di kota-kota yang pernah kita bangun. Dari pondasi batu-batu syahwat. Hingga kepala seakan dipeluk penat. Saban hari, saban hari, kapan berhenti.

Astana Kuntul Nglayang, 2023

SUDAH 10 TAHUN LAMANYA

Tangannya gemetar, membaca surat itu. Berulang kali, berulang kali. Dia ulang baca berkali-kali. Di atas kursi ruang tamu. Dia terduduk ngungun tak beranjak berdiri. Desir angin menyeka daun-daun pintu. Sehelai daun terbawa angin sampai ruang itu. Matanya berkaca-kaca, di setiap kata-kata yang terbaca. Jantung di dadanya ingin berlari ke luar jendela. Memeluk anak-anaknya. Berlari dalam hujan, dalam terik matahari, menembus pagar, menembus dinding kamar. Memanggil nama anaknya satu per satu

Baca lain  Sanggar Puisi

Namun siapa yang dipanggil hingga peluk bertemu rindu. Tak ada wajah anak-anak itu. Namun siapa yang ditunggu. Anak-anak telah mati 5 tahun yang lalu. Surat itu dia temukan baru saja. Saat membuka buku-buku tua berisi kenangan lama. Surat itu sudah 10 tahun ada di sana. Menunggu takdirnya untuk dibaca. Begitu sempurna anak-anaknya membuat mendung dan hujan di matanya. Dengan surat berisi kata-kata”aku rindu ibu” di baris akhir surat itu.

Astana Kuntul Nglayang, 2023

MANDIRI

Aku tak ingin mati
Sebelum melihat anak gadisku mandiri;

Pandai naik sepeda sendiri
Mandi sendiri
Cebok sendiri
Pergi ke pasar sendiri
Masak sendiri
Makan sendiri
Beli lipstik sendiri
Beli baju sendiri
Beli celana dan bh sendiri
Beli sepatu sendiri
Ke salon sendiri
Ke mal sendiri
Beli apa-apa dengan uang sendiri
Dapat pasangan dengan caranya sendiri

Tuhan, aku tak ingin mati sendiri dengan cara begini
Melihat anak gadisku berlari pergi
Meninggalkan aku sendiri dalam rumah sunyi
Rumah tempat berteduh kami

Baca lain  Azan Maghrib pertama

Astana Kuntul Nglayang, 2023

GENGGAMLAH TANGANKU, AKU SELALU BERSAMAMU

Kemarilah, aku ingin melihat tangismu. Menyorot dadaku hingga perih. Seperti terkena pecahan beling yang tajam. Katakanlah luka itu kau pungut di jalanan. Dan kau tak bisa mengelak saat angin buru-buru menghantam.

Bawakan aku sekeranjang jemu, asal jangan bunuh diri di depanku. Pintu-pintu itu masih terbuka; gereja, masjid ataupun sebuah vihara. Carilah damai itu lewat kata-kata yang terbatuk-batuk di kepalamu.

Tuliskan untukku langkah kakimu, terserah; sebelah kanan atau kiri bagiku sama saja. Kamu hanya seperti sebuah dada yang ingin berlari. Dan aku akan menangkapnya. Lewat potret-potret buram perjalanan kita.

Tapi tolong tutup pintu gerbong kereta itu. Aku tak ingin melihat angin ataupun kumbang cemburu. Dengan jalan yang selalu berliku, aku ingin membuat perjalanan baru bersamamu.

Astana Kuntul Nglayang, 2023

BERITA LAIN

Selamat tinggal, perempuan berambut putih

CLAYTON ROBERT bertugas Sebagai Pembantu Penguat Kuasa di Majlis Daerah Serian di Serian, Sarawak. Karya beliau tersiar dalam pelbagai akhbar dan majalah termasuk Mingguan Malaysia,

Matinya presiden kami!

Seluruh jelata Asmaraloka dikejutkan dengan khabar liar yang berhembus sejak semalam itu. Semacam tidak percaya, rasanya baru seminggu lepas presiden mereka itu mendapat tepukan dan

Nukilan Effa Raifana

EFFA RAIFANA. Nama sebenar beliau ialah Nur Raifana Abdullah @ Deborra Michael. Kelahiran daerah Dalat, Sarawak. Berkhidmat di Jabatan Peguam Besar Negeri Sarawak. Bergiat aktif

Kilau Ramadan

Saat siang datang mewarnai kelaparan Betapa kemiskinan kian tumbuh di ladang Kilau ramadan menyamar lentik kehampaan Haus dan lapar mendayung saling menghayati setelah siang menuntut

Sanggar Puisi

HARUMAN RAMADAN Hirupan mewangi akrab bersama alunan suci Rempah taqwa membalut diri Ujian menahan nafsu Sepurnama Ramadan hadir Maghfirah diburu insani Mawaddah iqra itulah penyeri

Oyeng dan lelaki berwajah Bonoba

AWANG JOHARI JULAIHI menggunakan nama pena: Johari A. Julaihi, berasal dari Simunjan dan menetap di Kota Samarahan, Sarawak. Berpendidikan Ijazah Sarjana Muda Psikologi dengan Kepujian

BERITA TERBARU

PDRM

Suspek kes amang seksual ditahan di Miri

SRI AMAN: Suspek lelaki dikehendaki polis yang disyaki melakukan amang seksual terhadap seorang kanak-kanak perempuan di kawasan tanah perkuburan lama, Kampung Kubal, Betong ditahan Jumaat

Pemancing udang jumpa mayat terapung

MIRI: Sembilan pemancing udang galah dikejutkan dengan penemuan mayat seorang lelaki dalam keadaan tidak sempurna di Sungai Kuala Baram di sini, hari ini. Ekoran itu,