FILESKI WALIDHA Tanjung Files dilahirkan di Madiun, Indonesia pada 21 Februari 1988. Beliau merupakan seorang penulis, pemuzik, penyair, dan pendidik yang mengajar Seni Budaya di SMAN 2 Madiun.
Dikenali melalui karya puisi, prosa, dan esei yang terbit di perbagai media massa, beliau pernah mencatatkan dalam 63 tulisan berupa puisi, cerpen dan esei yang dimuatkan dalam akhbar tempatan, nasional serta luar negara sepanjang 2024.
Selain itu, beliau turut memenangi beberapa anugerah termasuk Anugerah Hescom daripada e-Sastera Malaysia 2014 dan 2015.
Fileski juga memenangi Lima Terbaik Cipta Baca Puisi Gempita Awards 2025, Lima Terbaik karya Seni Budaya di GCC 2021 Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur serta Lima Terbaik cipta puisi di Festival Sastra Nasional ‘Syukur Waktu’ 2024. Penulis juga pernah terpilih di Peta Sastra Kebangsaan 2024 di Salihara, Jakarta.
Fragmen Ketuhanan
Tuhan tidak tinggal di kata, ia bocor dari celah
granit Mont Saint-Michel menetes sebagai embun
asin di lidah para rahib yang lupa doa tetapi hafal
harga minyak mentah.
Di antara kubah Hagia Sophia dengan lorong
gelap Rue de Rivoli, aku mendengar-Nya
tergagap, seperti aksara yang ditelan api sebelum
sempat menjadi kitab.
Yang Maha Esa itu retak, bukan karena Ia
rapuh, tetapi karena manusia memecah-Nya menjadi
logo, slogan, dan jadwal ibadah.
Brahman menguap di atas Sungai
Danube Sunyata mengering di antara rel kereta
Berlin Hauptbahnhof Tao, terselip di lipatan mantel
musim dingin yang dibeli dengan kartu kredit
berdarah.
Aku menyebut-Nya dengan diam sebab setiap
nama adalah pengkhianatan dan setiap tafsir adalah
dosa yang terlalu intelektual untuk ditangisi.
Tuhan berjalan pincang di trotoar
Manhattan sementara para nabi moden sibuk
mengoreksi ejaan cahaya.
2025
Antropologi Sunyi
Manusia adalah makhluk setengah jadi; tubuh dari
tanah, akal dari kebingungan, ruh dari utang metafisik.
Ia berjalan membawa tengkorak masa depan di
dalam dadanya, sambil mengutip puisi Rilke tanpa
memahami luka yang melahirkannya.
Di padang pasir Nevada aku melihat manusia
memuja layar seperti menyembah matahari
palsu yang tak pernah terbenam dan tak pernah
menghangatkan.
Akal menjelma algoritma ruh menjadi debu
arsip dan tubuh sekadar kendaraan iklan.
Manusia lupa bahwa ia bukan pusat
semesta melainkan penumpang gelap di kapal yang
bernama takdir.
Ia bertanya tentang tujuan hidup sambil membuang
mata air ke dalam botol plastik sekali pakai.
2025
Kosmogoni Gagal
Pada mulanya bukan firman, melainkan
kebisingan mesin, seperti pabrik tua di Ruhr
Valley yang melahirkan asap alih-alih malaikat.
Langit dijahit dari sisa logam bumi dibentuk dari
kelelahan kosmik dan manusia lahir dari kesalahan
pengukuran cahaya.
Hutan Amazon bukan Eden, ia luka terbuka yang
menunggu perban dari doa yang sudah
kedaluwarsa.
Bintang-bintang tidak jatuh— mereka mogok
kerja karena tak sanggup lagi menjadi metafora
harapan.
Di atas Sungai Seine, kosmos mematut
wajahnya lalu lupa mengapa ia diciptakan.
Alam semesta ini bukan karya agung, melainkan
catatan kaki yang terlalu panjang untuk dihapus
oleh waktu.
2025



