Lelaki itu terlelap di dalam jam, beralas detik yang letih
jarum panjang menjadi pagar, jarum pendek menghakimi sunyi
semalam disimpan seperti resit-resit kesalahan
angka-angka tersenyum nipis, menyindir lambatnya insaf
masa dijunjung sebagai tuan yang memungut usia
hati bekerja senyap, memikul beban penyesalan.
Ia terjaga, namun jam masih memeluk dadanya
bunyi tik menekan, mengikat langkah yang mahu pergi
janji lama melilit kaki yang ingin bebas
hidup mentertawakan dirinya dengan senyum sinis
penyesalan tiba tepat, seperti hutang bermeterai
hari-hari tunduk di hadapan masa yang keras.
Jam dihampar menjadi sejadah kesedaran
jarum dilepaskan, angka luruh menjadi tasbih
doa dipanjangkan, bukan untuk memutar waktu
hanya untuk membersihkan jejak yang masih ada
penyesalan dijahit dengan benang sabar
dan lelaki itu akhirnya terjaga dari jam.
JAYA RAMBA
Miri, Sarawak
10 Januari 2026



