Sangkaan sang garuda tersasar
saat membina sarang hinggap di sebuah
pohon besar
setelah menyangka kehadirannya diterima
tetapi ditolak siang-siang
sidang manusia dan mergastua
atas alasan wilayah itu habitat asli
terlarang
kepunyaan petinggi istiadat dan pejuang
rimba
serta hak keruai, helang dan kenyalang
juga milik Orang Utan dan Orang
Belanda.
Kata mereka, “Ini tanah keramat kami.
Adat
serta akar tradisi melingkar rapi, melilit
kukuh
dari langit hingga turun ke tujuh petala
bumi,
di atas lahannya tali budaya tersimpul
ketat,
berjejer tajau pusaka warisan
menyimpan sarat naratif perjuangan
dengan darah pengorbanan mengalir
pekat,
dan keringat semangat mengguyur likat.
Di sini, berkurun peradaban para leluhur,
kosmos alam dan nilai maruah disiagaawasi
serta terpelihara suci murni. Maka
untuk
mendiaminya tidak sewenangnya mudah
walaupun buat warga serumpun setanah,
atau waima pun satu tubuh dan sedarah.”
Wajah sang garuda sekilas berubah
dari burung gagah terbang di kayangan
lantas bertukar menjadi gajah putih
sekawan
yang terbiar merayau di atas tanah
berkeliaran tanpa tuan.
Kini impian untuk menyaksi
sarang hinggap garuda megah bergengsi
hanyalah bayangan pesona indah
segunung harapan musnah
sekadar cantik khabar daripada rupa
sarang hinggap yang dahulu ampuh
sekarang bagai menunggu masa runtuh
atau mungkinkah terbiar menjadi
sesepuh?
bak lembaran mushaf lusuh
yang tersorok cermat di ruang pojok
meski tetap dijaga elok.
BASRI ABDILLAH
Samarinda-IKN-Balikpapan-Kuala Lumpur.



