
ANGGALIH BAYU MUH KAMIM
lahir di Sleman pada 14 Jun 1997. Beliau dibesarkan dari lingkungan yang mengalami perubahan agraria secara masif membuatnya sering menulis berkaitan masalah petani, agraria, lingkungan, ekonomi sumber daya alam, pendidikan dalam pelbagai esei, artikel ilmiah, karya tulis ilmiah mahupun karya sastera sebagai wujud refl eksi atas hal yang terjadi dalam persekitarannya.Antara karya puisi beliau ialah Negeri Srimulat, Hil yang Mustahal, Mak Bedunduk, Untung Ada Saya, Congkak Terjebak, Gepeng Mencari Untung, Ogah Ngeyel dan Asal Bisa Untung.Karya cerpen beliau ialah Senja, Senewen, Tengkulak Digital dan Calak Limbung.e-mel: anggalih.bayu@yahoo.co.id. Instagram: anggalihnontondiskusi.
Terhempas Ampas
Kriat… kriut… garu raksasa serok rezeki
kiriman dari juragan seberang lautan
berat… butut… baru tiba teronggok basi
sisa-sisa peradaban negeri orang.
Bahan butut disambut jadi primadona
sasaran empuk untuk yang punya usaha
murah meriah tak apa
meskipun sisa-sisa
mahu bagaimana ditaksirnya
cepat laba.
Sisa peradaban seberang, buat berang
sisa olahan orang, bikin bimbang
dikiranya bumi kita tempat cuci dosa
difikirnya rumah kita buat tumpuk sisa-sisa.
Remah-remah seberang dibeli
bumi pertiwi digadai
sampah limbah orang diterima
punya kita mahu diolah ke mana.
Juragan seberang limbung
pengusaha kopong
keuntungan kembung
warga cuma sapi ompong.
Semuanya buyar
biarpun soal lum bubar.
Hibah Musibah
Korek-korek gunungan
memindah racun ke sumber penghidupan
arek-arek kebingungan
limbah peradaban dipindah berurutan.
Dari gunungan beralih menuju balai
racun dianggap bahan bakar murah
cari keuntungan jalan cepat
limbah masuk perapian makin nirfaedah.
Bediang pemasak tahu
kedelai rasa sangit
bediang pemasak tahu
aduhai perkara melangit
bediang pemasak tahu
lalai telur pun ikut kena soal
bediang pemasak tahu
kimia racun tak masuk di akal.
Plastik sisa-sisa penyokong olahan kedelai
rosak lingkungan cacatkan badan
plastik sisa-sisa penyokong olahan kedelai
barang murah nir faedah tambah musibah.
Arek-arek jangan dirundung
mereka juga tak bisa ditanya.
Arek-arek korban limbung
cuba siapa yang bawa petaka
import… import…. berujung gunung
import… import…. linglung bingung.
Cuci tangan
lempar batu sembunyi tangan
sok suci punya penampakan
menampar huhuhu
akhirnya saling menyalahkan.
Remah-Remah Bencana
Ini silaturahmi bukan sembarang kunjungan
ini permisi bawa-bawa serokan
ini kula nuwun bukan untuk salaman
ini kedatangan demi jemput buangan.
Racun dipisah dipilah sudah
sinuwun terperangah cerah bungah
ampasnya telah terjumput
cuannya sudah dijemput
ini silaturahmi tak asal datang
ini permisi dengan dapat wang.
Sinuwun terlayani, si kecil terbengkalai
tak punya cuan, tiada dapat silaturahmi
tak ada panjeran, tiada terlayani.
Ya sudahlah, ampas ampas dibakari
ya sudahlah, terkemas terhempas ke sungai.
Bagaimana mahu dikata
tak merata
bagaimana mahu dikata
tiada jaminan negara
redistribusi hanya ilusi
layanan ampas-ampas terbengkalai
cuan permainan
yang jadi aturan main bisa terlayani
celakanya si kecil yang diherdiki
sinuwun yang dicintai.



