ARTIKEL

Nukilan Anggalih Bayu Muh Kamin

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram

JOM BACA E-PAPER SUARA SARAWAK/ NEW SARAWAK TRIBUNE PERCUMA SEAWAL 2 PAGI SETIAP HARI. KLIK SINI

ANGGALIH BAYU MUH KAMIM

lahir di Sleman pada 14 Jun 1997. Beliau dibesarkan dari lingkungan yang mengalami perubahan agraria secara masif membuatnya sering menulis berkaitan masalah petani, agraria, lingkungan, ekonomi sumber daya alam, pendidikan dalam pelbagai esei, artikel ilmiah, karya tulis ilmiah mahupun karya sastera sebagai wujud refl eksi atas hal yang terjadi dalam persekitarannya.Antara karya puisi beliau ialah Negeri Srimulat, Hil yang Mustahal, Mak Bedunduk, Untung Ada Saya, Congkak Terjebak, Gepeng Mencari Untung, Ogah Ngeyel dan Asal Bisa Untung.Karya cerpen beliau ialah Senja, Senewen, Tengkulak Digital dan Calak Limbung.e-mel: anggalih.bayu@yahoo.co.id. Instagram: anggalihnontondiskusi.

Terhempas Ampas

Kriat… kriut… garu raksasa serok rezeki

kiriman dari juragan seberang lautan

berat… butut… baru tiba teronggok basi

sisa-sisa peradaban negeri orang.

Bahan butut disambut jadi primadona

sasaran empuk untuk yang punya usaha

murah meriah tak apa 

meskipun sisa-sisa

mahu bagaimana ditaksirnya 

cepat laba.

Sisa peradaban seberang, buat berang

sisa olahan orang, bikin bimbang

dikiranya bumi kita tempat cuci dosa

difikirnya rumah kita buat tumpuk sisa-sisa.

Remah-remah seberang dibeli

bumi pertiwi digadai

sampah limbah orang diterima

punya kita mahu diolah ke mana.

Juragan seberang limbung

pengusaha kopong

keuntungan kembung

warga cuma sapi ompong.

Semuanya buyar

biarpun soal lum bubar.

Hibah Musibah

Korek-korek gunungan

memindah racun ke sumber penghidupan

arek-arek kebingungan

limbah peradaban dipindah berurutan.

Dari gunungan beralih menuju balai

racun dianggap bahan bakar murah

cari keuntungan jalan cepat

limbah masuk perapian makin nirfaedah.

Bediang pemasak tahu

kedelai rasa sangit

bediang pemasak tahu

aduhai perkara melangit

bediang pemasak tahu

lalai telur pun ikut kena soal

bediang pemasak tahu

kimia racun tak masuk di akal.

Plastik sisa-sisa penyokong olahan kedelai

rosak lingkungan cacatkan badan

plastik sisa-sisa penyokong olahan kedelai

barang murah nir faedah tambah musibah.

Arek-arek jangan dirundung

mereka juga tak bisa ditanya.

Arek-arek korban limbung

cuba siapa yang bawa petaka

import… import…. berujung gunung

import… import…. linglung bingung.

Cuci tangan

lempar batu sembunyi tangan

sok suci punya penampakan

menampar huhuhu 

akhirnya saling menyalahkan.

Remah-Remah Bencana

Ini silaturahmi bukan sembarang kunjungan

ini permisi bawa-bawa serokan

ini kula nuwun bukan untuk salaman

ini kedatangan demi jemput buangan.

Racun dipisah dipilah sudah

sinuwun terperangah cerah bungah

ampasnya telah terjumput

cuannya sudah dijemput

ini silaturahmi tak asal datang

ini permisi dengan dapat wang.

Sinuwun terlayani, si kecil terbengkalai

tak punya cuan, tiada dapat silaturahmi

tak ada panjeran, tiada terlayani.

Ya sudahlah, ampas ampas dibakari

ya sudahlah, terkemas terhempas ke sungai.

Bagaimana mahu dikata

tak merata

bagaimana mahu dikata

tiada jaminan negara

redistribusi hanya ilusi

layanan ampas-ampas terbengkalai

cuan permainan

yang jadi aturan main bisa terlayani

celakanya si kecil yang diherdiki

sinuwun yang dicintai.

BERITA LAIN

PEJUANG NAFKAH

Dia tidak pernah ambil tahu jika wang di saku sering berbaki cukup-cukup nyawa. Dia tidak pernah peduli kalau ringgit makin mengukuh merujuk ungkapan orang ekonomi.

GELANDANGAN

Melintasi kedai serba ada kulihаt dia berbaring santai menyesak ruang masуk ke pintu kedai pelanggan lalu-lalang memandang sinis menutup hidung. Kita ini miskin atau kaya

BERITA TERBARU