
RAHMI RAHMAYATI lahir di Bandung.
Kini melanjutkan pengajian pascasarjana
di Prodi Doktor Ilmu-ilmu Humaniora,
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas
Negeri Surabaya sejak 2014. Pernah belajar dan
bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI
Bandung pada 2000 hingga 2005. Puisi-puisinya
pernah disiarkan di akhbar Pikiran Rakyat,
Galamedia, maca.web.id, majalah Basis, dan
beberapa antologi puisi bersama.
DANAU INI
Di danau ini
kutumpahkan segala
kenangan dan ingatan tentangmu
kukabarkan pada burung-burung
yang beterbangan bebas
bahwa semuanya tentangmu
telah kulepaskan
dan kuterbangkan ke cakrawala
kubisikkan pada dedaunan dan pepohonan
yang ada di taman ini
bahwa namamu hanya mampu
kutasbihkan lewat doa-doa
kuteriakkan pada gemericik air
dan desir angin
bahwa aku hanya bisa
bertemu dan menemuimu
lewat mimpi dan memori
kalau kau ingin sekadar
mengingat dan mengenangku
datanglah ke danau ini
dan selamilah
hingga kau menemukannya
dan pasti kau akan menemukannya
Wisdom Park UGM, 29 Januari 2023, 10.02
TERUNTUK SEORANG LELAKI
Teruntuk seorang lelaki
yang perlahan mengetuk pintu rumah ini:
rumah yang telah lama sepi
Apa yang membawamu menghampiri
hati yang sudah lama mati?
Aku sudah tak punya nyali
untuk menghidupkan kembali
bara api yang kehilangan
hangatnya mentari
Apa yang membuatmu
hadir di antara September?
Bagiku sudah tak ada lagi
September di antara waktu-waktu
hari ini ataupun yang akan menanti
Jadi, tolonglah pergi
dan jangan kembali
Yogyakarta, 16 September 2023, 23.49
JENDELA
Jendela yang tertutup lama
kini perlahan terbuka
di antara semilir angin,
aroma melati, dan embun pagi
Apa yang membuatku
perlahan membuka jendela itu?
Mungkinkah karena
kulihat kau di seberang sana
menatapku di kejauhan
melambaikan tangan
dan menantiku dengan
sebuket bunga?
Apa yang kau mau, Tuan?
Aku hanya seorang perempuan
yang telah lama tak hendak
untuk mencinta
karena tahu bahwa pada akhirnya
hanya tersisa duka dan luka
Apa yang kau mau, Tuan?
Bisakah kau pergi dan tak pernah
kembali?
agar aku tak lagi perlahan-lahan
membuka jendela itu
yang kini perlahan-lahan
ingin kututup kembali?
Yogyakarta, 18 Oktober 2023, 13.22
NAMAMU
Ada sesuatu yang begitu sulit
‘tuk kujelaskan
ketika namamu berkelebat
dalam sukmaku
Ada yang bergemuruh
dalam dadaku
setiap kutasbihkan
atau bahkan kudengar namamu
Namamu menjelma seperti
mantra dan doa-doa
yang melirihkan asa
dan semua hal
yang melahirkan
senyuman dan tawa
Semuanya tak mampu
didefinisikan menjadi
sebuah kalimat, klausa,
frasa, atau bahkan kata
karena semuanya t’lah
meluruh dalam jiwa
yang kini hanya dipenuhi
namamu
Aku tak tahu
apakah namamu akan bertahan
dalam hatiku ataukah
hanya sekadar singgah
dan berlalu
yang kutahu
aku selalu membisikkan namamu
ketika rindu mencandu
dan mencabik kalbuku
Kini namamu
t’lah mengalir mengisi
ruang hampaku
Surabaya, 11 Desember 2021, 19.31



