Himpunan Ramadan
Telah bertemu semilir
hasrat
antara Gunung
Lesung dan Serapi
bunga bunga waktu
bersusun di tanah
ikrar
dalam mata kasih
Santubong
pada cermin Batang
Lupar
menggubah pertemuan
di lantai persahabatan.
aku melangkah masuk,
ke rumah perjuangan yang citra
lalu kami menjadi rimbun
yang penuh warna.
di sini, kenangan menjadi dekat
bila pengalaman telah dilukis oleh takdir
duduklah sebuah pertanyaan
membuka perspektif di laman karya
sebuah kembara usia.
Ramadan kali ini,
suara azan yang jauh
telah berhimpun menjadi rindu.
ANISSYIFA
Pulau Seduku, Sri Aman.
Ayah, Ramadan Kali ini
Ramadan datang lagi
tapi ayah telah gemulah
ramadan kali ini menjadi
sepi
rindu hadir menggebu di
dada luka
namun doa tidak putus
semoga tenang menemui
tuhan.
Ayah, ramadan datang
lagi
meski agama kita berbeza
ketika azan bergema
masih terngiang di telinga
suaramu mengingatkan
masa berbuka
kita berkongsi menikmati
kurma
sambil bercerita perihal
dunia
kenangan bergentayang
di ruang ingatan
kini semuanya tinggal
memori
Ayah, ramadan kali ini
penuh pengajaran hidup
erti berkongsi sesama
insan
mengingat yang hidup dan
mati
menghulur sedekah
seikhlas hati
untuk mengisi kantung
bekalan
menuju alam kekal.
Ayah, ramadan kali ini
meski insaf hadir perlahan
dan rindu yang sering
bertandang
aku tetap berteleku di
tangga takdir
memanjatkan seuntai doa
apabila sampai waktu
kita akan kembali bertemu
lagi.
Siti Nur Hidayah
Desa Wira, Sarawak.

Kunang-Kunang Di Negeri Awan
(Dari Jendela Tingkat 8 Wisma Pelita Tunku)
Empat dekad ia menjadi mata
yang tak pernah lelap
menghitung setiap bayangbayang manusia
yang mengalir bagai sungai
kelam.
Sepi malam di balik jendela
awan, aku bersama
menjadi saksi riuh suara dan
bisu rasa yang berkelana,
nenek tua dengan keranjang
rotan dan peluh kering
menggendong gunung mimpi
di punggung tua
dan di sudut pilu, tangan sepi
memeluk debu-debu angan
mendakap rapuh harapan
dari mentari yang menjauh.
Tari ria anak-anak bersama
sejuta tawa
di balik lorong-lorong dan
bisik kunang-kunang
wajah zombi digital
memantulkan cahaya neon
terperangkap dalam kanvas
elektronik.
Wisma, dinding-dindingnya
menyimpan sejuta bisik
menjadi saksi zaman yang
terus berlari
cahaya dan bayangan, di
atas jalan batu
mengalir bersama riuh suara
melata
melihat dan menghadap,
semesta dalam litup
menanti perubahan, di
jendela hati.
Di sini, di antara awan dan
debu
kita adalah daun-daun yang
menari
membawa bersama embun
harapan.
Nur Izzam
Miri, Sarawak.




