SEPAGI BERSAMA DAMIA
Di langit September
Hari hujan pertama
Bersembunyi di balik tirai rintik
Mendengar bumi bercerita dalam bisik
Mengisahkan awal yang tak pernah berakhir
Air jatuh diam-diam memeluk tanah
Membawa doa-doa yang tak pernah lelah
Langit melukis pesan disetiap riasnya
Adalh perjalanan bukan sekadar jeda
Nyata bukan hanya khabar
Ojakan pentas kecil terus menari
Pertemuan adalah Lukisan hidup
Yang tak pernah mengambarkan
Bukan khayalan atau andaian
Di bawah langit September
Membuah kenangan terindah
Sepagi bersama anak kecil “DAMIA”
Semerah terbit nya sinar pagi
September mengukir lakar citra
Langit dan bumi saling mendakap
Menyantuni abadi keindahan
Hadirmu “Damia” melengkapi setiap ruang penjuru
Hamparan kasih sejuta rasa
Ibarat selumbar yang bertaut menyelubungi setiap Untaian rasa
Sepagi bersama Damia dilangit September.
25 Sept 2025
TAKDIR RINDU
Disetiap relung hati
Tersimpan seribu rasa
Di penjuru hati
Tersemat sembilu
Yang berakar umbi
Bagaikan selumbar
Yang melilit di setiap dahan
Dan cabang hati
Rindu tak pernah terungkap
Walau sejauh mana
Dedaknya dihanyutkan
Terapung bagaikan
Rimbunan teratai
Yang timbul tenggelam
Dek dihempas badai
Andainya takdir rindu
Ini untuk ku.
SORANG PENULIS KAH AKU?
Menulis tidak terancang
Meski cinta puisi sudah pergi
Tanpa pamitan
Persis kubur tanpa nisan
Pernah ku lewati musim segar
Dengan nyanyian syair
Mennyair luahan rasa
Buuh-buih kenangan bercempara
Di hempas ganas
Badai kehidupan
Kian menghilang
Apakah tertulis begin takdir
Masih lestari kah
Hayat cinta seni
Pabila kian di lupakan
Kendati pun setia
Mengimbas silam
Siapakah yang bisa mengerti
Nyeri yang tersimpan
Ku gagahi melakar jua
Bilah-Bilah kata
Meski perit getir terasa
Menganyam dalam kepayahan
Tiada kata indah bersulam
Bukan lagi di atas kenangan
Sekadar hadir bersama
Memori semalam
Seorang penulis kah aku..
1 Nov 2025
1.00 pagi



