RIO FEBRIANNUR RACHMAN ialah PENSYARAH Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, Indonesia. Penulis kumpulan puisi Dari Sungai Mentaya Sampai Bukit-bukit Di Soekarno-Hatta dan Balada Pencatat Kitab. Juga penulis kumpulan cerpen Merantau. Aktif menulis artikel ilmiah popular di media massa mahupun artikel penelitian di jurnaljurnal ilmiah.
CERITA PILU DI SUNGAI BERLIKU-LIKU
setelah 1998
Ini adalah kisah sekelompok anak Adam
terpecah periuk kerana hasutan
menghayun parang diliputi dendam
terbelah nafas di tanah kelahiran
Berawal dari perahu politik yang karam
diikuti keadilan yang tinggi di awan
satu bahagian meradang dan geram
yang satu tak mahu kalah melawan
Di bumi itu, di pulau dengan sungai berliku
air gambut bertambah merah karena sembilu
nyawa-nyawa yang tercabut paksa
pertumpahan darah yang sia-sia
Kapal-kapal perang membawa pengungsi
mahu tidak mahu mereka migrasi
tangis bocah menderu-deru
di samudera biru sejarah berubah pilu
Adu domba tak pernah usang
dari zaman manusia awal diciptakan
makhluk-makhluk bermuka belang
khianat demi harta dan kerakusan
Wahai, apakah ini pertanda jagat sudah tua?
namun mereka terus bersolek memantas muka
di hari-hari yang makin lelah berhentilah, berhentilah…
PERJALANAN TAK TERDUGA
salam perpisahan?
Tak ada lagi sang suria
kerana sinar-sinar adalah fana
apa masih ada penjaga?
tatkala manusia-manusia di sana ternyata pendusta
Kenyataan pahit yang harus ditelan
orang salah menanam pesan
dalam kotak itu suara-suara dipertaruhkan
nasib-nasib ditinggal di hujung jalan
punah sudah
berpasrah
dipijak kaki-kaki pongah
kalah….
Salam perpisahan disampaikan
segenap penjuru mendengar dengan lantang
mereka menegur malah disalahkan
urat-urat beradu, leher-leher diancam parang
Pelajar-pelajar akhirnya turun ke jalan
membuat lagu dan puisi
namun malah dikira pujian
alamak, dasar tak tahu diri!
Kami melangkah pelahan untuk pergi
menapak simetris jejak nabi-nabi
bukan kerana mabuk candu
hanya menjauh dari jalan buntu
DI TEPI BUKIT
perantauan
Di kota dengan gunung semeru
terseret takdir asing tak kemilau
pada hidup yang tak selalu berwarna
mengingatkan kematian yang pasti adanya
Burung-burung beterbangan di atas stasiun
seakan menyambut memberi dukung
ada ketakutan menjalar di dada
namun semangat terus diasah doa
Duhai, hati yang selalu ragu
pergilah jauh ke bukit-bukit di barat
manusia kadang terbawa rindu yang sendu
menjadi noda di hati berkarat
Kami diajarkan berlari
kerana lemah lambat pasti tertinggal
apa yang terjadi biar terjadi
melompati aral meski tersengal
Ayat-ayat dilantunkan
Kekuatan semesta alam raya
semuanya tunduk tekan
mengabdi pada pencipta
Lalu, kau kekasih….
memberiku pesan paling lirih
di bumi aku menemanimu
di langit kumintakan ampun untukmu….



